Selasa, 16 Juni 2015

Manusia dan Penderitaan (Puisi)



               "Sembuhkan Dunia"


Terkadang kita tak benar benar sadar
Disaat kita menyesal atas sebuah apel..
Ribuan bahkan jutaan jiwa diluar sana menangis..
Mengemis demi sebuah apel digenggaman kita..

Setiap retakan yang mereka terima..
Tanpa kita sadari..
Adalah retakan dari batu yang kita lempar..
Dari setiap kerusakan yang kita torehkan pada bumi yang tua ini..

Ada suatu tempat di hati kita..
Dan ku tahu itu cinta..
Kau tak perlu menangis..
Ataupun bersedih..
Karna kita tahu..
Ditempat ini ada luka dan kesedihan..

Namun jika kita benar benar ingin mencoba..
Kita akan melangkah menuju tempat yang lebih baik..
Ribuan cara untuk kesana..
Jika kita cukup peduli untuk hidup
Kita akan membuat suatu tempat kecil yang lebih baik
Bukan dirimu,, bukan diriku,,
Tapi setiap jiwa yang perpijak di bumi ini..

Sembuhkan dunia..
Buatlah tempat yang lebih baik..
Lenyapkan penderitaan mereka..
Untukmu dan untuk kita semua..

Selasa, 28 April 2015

Manusia dan Kasih Sayang (Cerpen)

Asslamualaikum warahmatullahi wabarokatu..
Kali ini, disamping tugas kedua dari mata kuliah “Ilmu Budaya Dasar#”, kita akan sedikit menghayal seputar cerita pendek, bertemakan “Manusia dan Kasih Sayang”. Cerita pendek ini terinspirasi dari sebuah film lama yang penulis lupa judulnya, bahkan sebagian besar ceritanya, namun dari sekitar sedikit cerita itulah cerpen ini tercipta. Let’s reading.

Percaya pada Cinta

Kabut putih lembut bagaikan awan seakan-akan nyaman menjadi karpet pada asrama indah itu. Ya, asrama di Puncak Jawa Barat yang akan dia tempati selama satu bulan untuk mengikuti pelatihan olah raga Anggar. Dia adalah Viana, seorang gadis kelas dua SLPT dari Semarang, Jawa Timur, selama ini dia tinggal bersama ibunya. Gadis berambut pirang kuncir kuda itu adalah salah satu dari puluhan siswa nasional yang ikut pelatihan tersebut. Mereka sampai di asrama pada minggu sore, hingga prepare untuk mengikuti pelatihan awal pada senin pagi.
***
Pelatihan pada senin pagi yang dingin kering tak menjadikan semangat mereka ikut membeku bersama suasana pagi hari penuh kabut itu. Pada latihan kali ini setiap orang ditentukan untuk melawan seorang yang lain dalam sebuah pertarungan. Mereka bertarung dengan menggunakan peralatan Anggar, lengkap dengan tutup wajahnya.  Viana mendapat giliran pertama untuk latihan bertarung melawan Analisa, gadis kelas dua SLTP asal kota Bukittinggi Sumatera Barat. Dalam pertarungan, tanpa sadar Analisa melakukan pelanggaran yang membuat Viana terjatuh, namun pelatih mereka tidak menyadarinya. Respon Viana sebagai gadis yang masih labil dalam emosi menyebabkan dia marah sehingga dia juga menjatuhkan Analisa, mereka berkelahi tanpa teknik dan kontrol emosi, sampai pelatih mereka memisahkan mereka dan bertanya, “apa yang kalian lakukan?” mereka menjawab serentak saling menuduh, “dia curang!”,”dia menjatuhkanku!” namun mereka tetap tidak mengakui kesalahan yang telah mereka lakukan sehingga terjadi adu mulut diantara mereka. Analisa membuka penutup kepalanya sambil membela dirinya, ternyata dia juga seorang gadis berambut pirang pendek. Viana juga membuka penutup kepalanya dan sekilas wajah mereka mirip hanya saja memiliki panjang rambut yang berbeda, sampai-sampai pelatih mereka susah membedakannya. Akhirnya mereka istirahat dan dipisahkan sementara.
***
Viana dan Analisa diberi peringatan karena berkelahi di hari pertama, dan pada akhirnya salah satu dari mereka harus meminta maaf kepada satu yang lain. Viana berniat ingin meminta maaf kepada Analisa, namun ketika dia ingin keluar dari asramanya, tepat dibalik pintu asramanya ada Analisa yang menunggunya di luar. “Maafin aku ya” kata Analisa langsung tanpa basa basi, “Maaf kenapa? Kemaren aku kok yang salah” jawab Viana, “yaudah saling memaafkan aja” sahut Analisa. Analisa pergi tanpa ada percakapan serius antara mereka.
***
Sekian hari di asrama puncak yang dingin itu berlalu dengan cepat, setelah seminggu berjalan terjadi pengacakan asrama, dimana sekarang Viana dan Analisa tanpa sengaja tinggal di kamar yang sama. Tanpa mereka sadari mereka memiliki banyak kesamaan yang membuat mereka melupakan pertengkaran yang terjadi di awal pertemuan mereka. “Kamu suka roti tawar gak?” Analisa mengajak Viana untuk sarapan pagi, “iya boleh, makasih ya” jawab Viana,”kamu suka makan roti juga kalo sarapan?” sambung Viana balik bertanya, Analisa menjawab ”suka banget, apa lagi kalo dioles selai kacang terus ditambah sama …”,”mises coklat” tanpa sengaja mereka serempak menyebutkannya. “kok kita bisa samaan gitu ya?” Tanya Viana, Analisa menjawab, “gak tau, hha, aku juga bingung”, Analisa menyambung “kalau aku sih tiap pagi sarapan ini sama ayah aku”, Viana menjawab “aku juga, sama ibu aku, ibu kamu gimana?” tanya Viana , dengan ekspresi wajah sedikit berubah Analisa menjawab “Ayah sama ibuku udah cerai waktu aku belum ingat apa-apa” , Viana kaget dan berkata “Tunggu sebentar, Ibu sama ayah juga pisah waktu aku baru lahir beberapa bulan”. Percakapan semakin serius hingga mereka berdua diam seribu kata. Viana berlari menuju lemarinya untuk mengambil sesuatu, dia membawa sepotong foto robek yang di dalam foto itu ada seorang bayi yang digendong seorang lelaki, bayi itu adalah Viana. Viana berkata “ini foto ayahku, ibu nyuruh aku buat nyimpan foto ini, supaya aku tau wajah ayah aku”. Analisa tersenyum sembari sedikit meneteskan air mata. Dia mengeluarkan dompet dari kantongnya yang juga berisi secabik foto robek yang di dalam foto itu ada seorang wanita menggendong seorang bayi. Tanpa berkata apa-apa mereka diam, meneteskan air mata, hingga akhirnya berpelukan satu sama lain. Viana berkata dalam isak tangisnya “Maafin aku, kamu kembaranku yang selama ini aku bahkan gak tau siapa namamu”, dalam genangan air mata Analisa menjawab “Kamu sama sepertiku”. Suasana hening haru bercampur bahagia menyelimuti kamar mereka.
***
Hari demi hari mereka jalani bahagia sebagai saudara kembar. Mereka saling bertukan cerita tentang orang tua mereka, sehingga mereka tahu penyebab perpisahan orang tua mereka bukan karena tidak cocok melainkan perbedaan budaya Jawa dengan Minang dan orang-orang disekitar lingkungan mereka yang tidak setuju akan pernikahan mereka karena perbedaan budaya saat itu. Viana dan Analisa merahasiakan kalau mereka adalah saudara kembar dari teman-teman dan pelatihnya, bahkan mereka juga merahasiakan pertemuan mereka kepada orang tua mereka sampai masa asrama telah berjalan dua minggu hingga saatnya mereka pulang ke kampung halaman masing-masing dan untuk segera kembali melanjutkan latihan selama dua minggu lagi pada bulan depan. Sebelum pulang, Viana dan Analisa merencanakan sesuatu. Ya, Viana sangat ingin bertemu dengan ayahnya begitu juga dengan Analisa yang sangat ingin bertemu dengan ibunya. Viana memotong rambutnya sehingga mirip dengan Analisa. Hasilnya luar biasa, hampir tak ada perbedaan antara kedua saudara kembar yang telah lama berpisah itu. Dengan keberanian dan nekat, mereka menjalankan rencananya. Ya, Viana yang tinggal di Surabaya pergi ke bukittinggi, dan Analisa yang tinggal di Bukittinggi pergi ke Surabaya
***
Viana menjalankan kegiatan sehari-harinya sebagai Analisa tanpa memberitahu orang tuanya, begitupun dengan Analisa. Dua hari berjalan sampai sang Ayah bertanya kepada Viana, “Analisa, kamu banyak perubahan abis pulang pelatihan anggar”, dengan ragu Viana menjawab, “iya ayah, tapi aku tetap anak ayah kok”, sang ayah kembali bertanya, “coba cerita deh, apa yang bikin kamu banyak perubahan kayak gini?”, dengan setengah berani Viana menjawab,”aku mau jawab pertanyaan ayah, tapi aku mau nunjukin sesuatu dulu”. Viana mengeluarkan dompet milik Analisa yang ternyata foto yang berisikan sang ayah menggendong bayi. Viana berkata “Ayah ganteng waktu masih muda, dan masih ganteng sampai sekarang”. Sang ayah yang kaget dengan tangan yang berkeringat, mengambil sepotong foto dirinya dan anaknya. Dengan ragu ayahnya bertanya, “Viana?”. Viana tersenyum manis dan memeluk ayahnya kuat sembari berkata “kami bertemu pas pelatihan anggar yah”, ayahnya memeluk balik Viana sambil berkata singkat, “Maaf”
***
Analisa dijemput ibunya di stasiun Surabaya, ibunya sedikit kaget dengan rambut Analisa yang pendek sembari bertanya sambil memuji “siapa yang potongin rambut kamu lis? Kok bagus?”, Analisa menjawab, “saudara aku, ntar deh aku kenalin sama ibu” sambil tersenyum. Ibunya yang menganggap itu sebagai lelucon, hanya tersenyum melihat tingkah laku anaknya sambil membawanya pulang ke rumah yang belum pernah Analisa lihat. Tiga hari berlalu tanpa disadari penuh oleh sang Ibu. Pada saat itu Ibunya sedang memasak di dapur, sementara Analisa ingin keluar rumah lewat pintu dapur. Analisa menarik pintu dapur itu, tapi tak terbuka,Analisa mencobanya berkali-kali tapi tetap tak terbuka. Ibunya sambil tersenyum berkata kepada Analisa, “Kamu kok baru dua minggu di Puncak, udah lupa cara buka pintu? Jangan ditarik, tapi digeser”, Analisa kaget dan mencoba menggeser pintu itu, dan ternyata terbuka. Ibunya bertanya , “Viana, kamu kenapa sih ?”, Analisa menjawab, “Viana ? namanya bagus bu”, ibunya kembali bertanya, “maksud kamu ?”, Analisa menjawab, “Viana itu kan nama saudara kembar aku”. Sang ibu sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Analisa, bukan Viana. Dia menangis tanpa berani melihat ke Analisa, sekali dia melihat ke Analisa, dia bertanya’ “di mana kalian ketemu?”, Analisa menjawab “di Puncak bu”. Sang ibu meninggalkan masakannya menuju Analisa dan memeluknya. Suasana hening seketika sampai sang ibu bertanya, “Mana Vianaku?”
***
Satu bulan berlalu bahagia di dua dareah, satu keluarga itu. Sampai akhirnya masa asrama Anggar tiba. Dengan penuh semangat sang ayah mengantarkan Viana ke Puncak secara pribadi, begitupun dengan sang ibu mengantarkan Analisa ke Puncak. Suasana Puncak yang masih diselimuti kabut semerbak awan mengaburkan pandangan jarak jauh sang Ayah yang melihat seorang wanita dari kejauhan yang juga menatapi dirinya. Viana dan Analisa berlari saling mendekat meninggalkan kedua orang tua mereka kemudian berpelukan.  Sang ayah berjalan pelan namun gagah menuju sang Ibu yang tersenyum bahagia melihat mantan suaminya. Sang ayah mengeluarkan sebuah cincin sembari berkata, “aku lihat keluarga kecil kita bahagia kalau berkumpul bersama, maukah kamu mengembalikannya? Would you be my special one? Again ?”. sang Ibu meneteskan air mata sembari menangis bahagia. Dan saya rasa, pembaca sekalian tahu apa jawaban sang ibu. :)

THE END

Cinta, kasih dan sayang yang mempersatukan keluarga ini
Cinta akan ada hanya untuk cinta
Cinta selalu datang ketika cinta membutuhkan cinta
Penuhilah hatimu yang luas itu dengan cinta, kasih dan sayang, sehingga tak ada tempat untuk rasa dendam, amarah dan benci

#IB

---
Bait sajak terinspirasi dari Zafran film 5 cm, dan kata-kata motivasi Mario Teguh

Senin, 30 Maret 2015

Manusia dan Budaya



Assalamu’alaikum warahmatulah Wabarokah.
Alhamdulillahirabbil’alamin, Ashaduala ilaha ilallah, waashaduanamuhammadarrasulullah.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan menceritakan tulisan yang ber tema “Manuasia dan Budaya”, disamping untuk memenuhi tugas mata kulia “Ilmu Budaya Dasar”, tulisan ini juga bertujuan untuk menambah wawasan kita tentang budaya, khususnya budaya minangkabau, yang berpusat di provinsi Sumatera Barat.



Manusia dan Budaya


Menurut Wikipedia Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya), Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Photographer: Ilham Bismark
Di daerah minangkabau, terdapat suatu tempat yang dijuluki “Nagari Saribu Rumah Gadang” artinya negri seribu rumah gadang. Rumah gadang merupakan rumah adat minangkabau, dan di daerah tersebut memang terdapat ratusan Rumah Gadang. Nama resmi dari daerah tersebut adalah “Koto Baru” yang terdapat di Kabupaten Solok Selatan. Fyi, di Sumatera Barat terdapat banya tempat yang dinamakan Koto Baru. Koto Baru yang terdapat di Solok Selatan sendiri merupakan suatu tempat kecil  yang  terkenal di Solok Selatan sehingga Kabupaten Solok Selatan sendiri sering disebut sebagai kabupaten saribu rumah gadang. Daerah sekitar Negari Saribu Rumah Gadang juga terdapat banyak Rumah Gadang, walau sekarang sudah banya rumah modern yang ditempati masyarakat setempat.

Rumah gadang juga memiliki makna tertentu disetiap arsitekturnya. Salah satunya atap rumah gadang yang berbentuk gonjong, menceritakan sebuah kisah asal mula nama “Minangkabau” yang berhubungan dengan pertandingan adu kerbau, sehingga cerita tersebut menginspirasi pembuatan gonjong rumah gadang.

Rumah gadang bukan merupakan kepunyaan pribadi melainkan kepunyaan suku masing-masing, dan berbeda dengan budaya daerah lain, di minangkabau memiliki kekerabatan “Matrilineal”, artinya kekerabatan menurut garis keturunan ibu, jadi yang istilahnya “pamacik kunci rumah gadang” artinya pemegang kunci rumah gadang adalah Limpapeh atau wanita yang dituakan di suku tersebut. Karena rumah gadang bukan kepunyaan pribadi, jadi menjual rumah gadang dihitung melanggar hukum disana.

Rumah gadang merupakan bagian budaya minangkabau, dan minangkabau merupakan bagian dari budaya Indonesia,. Budaya khususnya di minangkabau merupakan kekayaan Indonesia. Karena Indonesia memiliki berbagai budaya, seharusnya kita bisa melestarikan budaya yang ada di daerah kita masing-masing. Karena seperti yang kita ketahui, Negara Amerika Serikat merupakan Negara adidaya, mereka bisa maju karena mereka melestarikan budaya mereka, Indonesia juga bisa maju jika kita bisa melestarikan budaya kita sendiri.

#IB

Selasa, 13 Januari 2015

Etnosentris

Etnosentris

Etnosentris adalah suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya orang lain. Mereka akan selalu memandang budaya orang lain dari kacamata budayanya. Hal ini terjadi karena nilai-nilai yang telah tersosialisasi sejak kecil sudah menjadi nilai yang mendarah daging (internalized value) dan sangatlah susah untuk berubah dan cenderung dipertahankan bila nilai itu sangat menguntungkan bagi dirinya. Terdapat 2 jenis etnosentris yaitu:

1. etnosentris infleksibel yakni suatu sikap yang cenderung bersifat subyektif dalam memandang budaya atau tingkah laku orang lain.
2. Etnosentris fleksibel yakni suatu sikap yang cenderung menilai tingkah laku orang lain tidak hanya berdasarkan sudut pandang budaya sendiri tetapi juga sudut pandang budaya lain.

Tidak selamanya primordial merupakan tindakan salah. Akan tetapi bisa saja dinilai sebagai sesuatu yang mesti dipertahankan. Dalam sudut pandang ajaran (ritual) misalnya. Perilaku primordialisne merupakan unsur terpenting, saat memberlakukan ajaran intinya.

Etnosentris di Indonesia

Salah satu contoh etnosentrisme di Indonesia adalah perilaku carok dalam masyarakat Madura. Menurut Latief Wiyata, carok adalah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki apabila harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap sebagai perilaku yang brutal dan tidak masuk akal. Hal itu terjadi apabila konsep carok dinilai dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang beranggapan bahwa menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan dianggap tidak masuk akal dan tidak manusiawi.

Namun, bagi masyarakat Madura, harga diri merupakan konsep yang sakral dan harus selalu dijunjung tinggi dalam masyarakat. Oleh karena itu, terjadi perbedaan penafsiran mengenai masalah carok antara masyarakat Madura dan kelompok masyarakat lainnya karena tidak adanya pemahaman atas konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok tersebut dalam masyarakat Madura. Contoh etnosentrisme dalam menilai secara negatif konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok dalam masyarakat Madura tersebut telah banyak ditentang oleh para ahli ilmu sosial. 

Budaya budaya di Indonesia menurut penulis pribadi sangatlah menakjubkan, bayangkan saja di satu provinsi bisa terdapat ratusan bahasa dan budaya, apalagi dengan banyaknya jumlah provinsi di Indonesia. Seharusnya ini tidak menjadi perpecahan diantara budaya di Indonesia, seharusnya ini bisa menjadi batu loncatan untuk berdampingan dan menutupi kekurangan masing-masing. Bapak Jusuf Kalla pernah ke aceh, beliau ingin menyelesaikan sengketa yang terjadi di aceh, sebelum berangkat beliau berbicara sedikit dengan orang arab, setelah menceritakan tujuannya, orang arab itupun ingin ikut dengan alasan ingin memberitahu kepada orang aceh bahwa anda masih beruntung dari pada kami orang arab, di tanah arab bahasa hanya ada satu, warna kulit hampir sama, agama sama,budaya sama, tapi pecah menjadi 18 negara, kalau di Indonesia ada ratusan bahasa, macam-macam warna kulit dan agama tetapi masih tetap bisa bersatu. Sesungguhnya kita bisa mengambil hikmah yang ada.

Secara umum sikap etnosentris tidak jauh berbeda dengan sikap diskriminasi. Sikap etnosentris seakan-akan memecahkan Indonesia, dan bermunculan kelompok-kelompok rasis. Mereka akan terus memandang kekurangan dari budaya daerah lain, dan membandingkannya dengan budaya mereka sendiri yang telah mereka anggap paling benar.

Akibat dari sikap ini akan menimbulkan sikap tidak enak kepada orang yang berbeda rasnya. selain itu juga menimbulkan masalah yang serius seperti perang antar suku, unjuk rasa penolakan yang berbasis agama dan berbagai macam hal yang cukup membuat pemerintah bingung. Dampak yang sebenarnya belum terlalu tampak pada zaman sekarang akan berkelanjutan jika tidak dikurangi atau diminimalisir. Sikap ini sebenarnya berbahaya bagi kehidupan pribadi maupun ras masing-masing. 

Sebenarnya kita tidak perlu menilai orang atas hal ini, cukup menilai diri apakah kita sudah terhindar dari sikap ini? Indonesia terdiri dari banyak budaya, banyak adat, banyak bahasa, dan tentunya banyak kepribadian dan yakinlah bahwa perbedaan itu memang sulit bersatu, namun bisa berdampingan.

Sumber: 
http://id.wikipedia.org
http://mbahkarno.blogspot.com

#IB

Diskriminasi

Diskriminasi

Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain.
Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi

Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama.

Diskriminasi tidak langsung, terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan.

Contoh perilaku diskriminasi di indonesia

Diskriminasi dan kekerasan terhadap orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia telah dicatat setidaknya sejak tahun 1740, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membunuh sampai dengan 10.000 orang keturunan Tionghoa selama peristiwa Geger Pacinan. Sejak saat itu, diskriminasi dan kekerasan telah dicatat baik oleh pemerintah asing dan Indonesia. Kejadian terburuk terjadi pada tahun 1998, ketika ratusan orang Tionghoa tewas dan puluhan lainnya diperkosa selama kerusuhan Mei 1998.
Diskriminasi dapat mengambil bentuk kekerasan, diksi atau penggunaan bahasa, dan undang-undang yang sangat membatasi. Karena diskriminasi ini, Tionghoa-Indonesia telah mengalami krisis identitas, tidak dapat diterima oleh Cina dan penduduk Indonesia asli.

Dalam kehidupan, pada dasarnya kita tidak jauh dari hal yang satu ini. Terkadang kita secara tidak sadar kita mengucilkan seseorang yang dianggap tidak penting. ya, wajar saja dengan sikap manusia yang serba terbatas ini menimbulkan sikap negatif seperti diskriminasi. Dalam pelaksanaan pada umumnya pemerintah secara tidak tertulis melarang perbuatan negatif ini, tapi sebagai warga negara harus menanggapi positif, walaupun tidak ada aturan tertulisnya.

Pada personal manusia, yang mengharuskan bersikap baik kepada orang lain terkadang mengucilkan bahkan membully seseorang yang seperti sama-sama kita ketahui memiliki HAMnya sendiri. Sama seperti pendapat orang kebanyakan kita seharusnya menghindari perilaku tersebut. karena selain dilarang dalam agama dan adat masing-masing,  diskriminasi juga akan berdampak kepada kehidupan sosial seseorang, bahkan bisa mengganggu psikologisnya. seseorang yang biasa dikucilkan dan tidak terlalu sering bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya dapat menjadi manusia individual dan ditakuti tidak bisa menjalani kehidupan secara mandiri.

Di sisi korban diskriminasi maupun pelaku diskriminasi sendiri sebenarnya menimbulkan dampak yang jika terus menerus dilakukan akan berpengaruh buruk. Pada diri pelaku diskriminasi, akan menanamkan sikap ketidakpedulian terhadap orang sekitar, dan juga ditakuti dengan sikapnya yang negatif itu akan dibenci orang-orang sekitar apabila Ia tetap pada sikapnya. Sebagai manusia biasa yang tak bersih dari khilaf dan kesalahan ini, penulis berharap kepada pembaca yang efektif maupun yang tidak efektif dapat mengambil sedikit banyak manfaat dari tulisan ini. Stop Discrimination

Sumber : id.wikipedia.org

#IB

Selasa, 06 Januari 2015

Persamaan Hak dan Derajat

Persamaan Hak dan Derajat


Hak adalah segala sesuatu yang harus di dapatkan oleh setiap orang yang telah ada sejak lahir bahkan sebelum lahir. Di dalam Kamus Bahasa Indonesia hak memiliki pengertian tentang sesuatu hal yang benar, milik, kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan oleh undang-undang, aturan, dsb), kekuasaan yang benar atas sesuatu atau untuk menuntut sesuatu, derajat atau martabat. Sedangkan kewajiban adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan, keharusan (sesuatu hal yang harus dilaksanakan). Di dalam perjalanan sejarah, tema hak relatif lebih muda usianya dibandingkan dengan tema kewajiban, walaupun sebelumnya telah lahir . Tema hak baru “lahir” secara formal pada tahun 1948 melalui Deklarasi HAM PBB, sedangkan tema kewajiban (bersifat umum) telah lebih dahulu lahir melalui ajaran agama di mana manusia berkewajiban menyembah Tuhan, dan berbuat baik terhadap sesame. Sementara Derajat adalah tingkatan suatu pandangan seseorang dari masyarakat tertentu.


Persamaan hak dan derajat di Indonesia

Banyak manusia yang berfikir dan menuntut pemerintah untuk menyamaratakan hak dan derajatnya dengan manusia lain. Tanpa ia sadari sebenarnya yang petut untuk meningkatkan hak dan derajat itu adalah manusia yang bersangkutan. Hak dan derajat sebenarnya akan meningkat jika manusia tersebut ingin dan mencoba untuk meningkatkannya, tanpa harus menuntut beberapa instansi untuk melakukan yang sebenarnya adalah tugas dari manusia itu sendiri.

Khusus di Indonesia, dan umumnya di seluruh Negara dunia, penyamarataan hak dan derajat balum sepenuhnya tercapai. Untuk hak sebagai warga Negara sebenarnya telah dianggarkan oleh pemerintah, hanya saja ada sebagian oknum yang selalu belum puas atas apa yang ia inginkan sehingga hak tersebut tidak sampai ke tangan masyarakat sepenuhnya. Sementara di berbagai Negara di dunia, khususnya Negara maju sudah melaksanakan persamaan hak hingga hampir seratus persen.contoh Australia, adalah salah satu Negara maju dimana semua warganya berhak mendapatkan hidup yang layak, sekalipun dia seorang pengangguran ataupun gelandangan. Setiap warga di sana yang tidak mempunyai biaya untuk makan disediakan dapur umum untuk mereka dan makanan itu pun tentunya gratis. Memang Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan Negara-negara lain apalagi Negara maju seperti Australia, tapi setidaknya kita bisa mengambil pengajaran dari contoh tadi.

Tentang persamaan derajat, menurut penulis pribadi sebenarnya adalah tanggung jawab pribadi masing-masing manusia. Jika seorang manusia ingin memiliki derajat yang tinggi, atau minimal sederhana, manusia tersebut tentu seharusnya juga tidak berdiam diri dan menunggu keajaiban yang datangnya entah dari mana, seharusnya ia melakukan sesuatu, jika ia tidak bisa melakukan sesuatu untuk orang lain minimal untuk dirinya sendiri.”Emang kalo rejeki kagak kemane, tapi kalo lu kagak kemane2, mane mao dapet rejeki” kata tersebut saya kutip dari Benjamin S. Masalah persamaan derajat, menurut penulis pribadi tidak akan terjadi, sebab jika semua orang memiliki derajat yang sama, tidak aka nada pemimpin, apalagi pemerintahan, dan tentunya manusia bingung karena tidak ada pemimpin untuk di ikuti. Jadi, perbedaan derajat, menurut penulis pribadi adalah anugrah dan tidak perlu diperdebatkan. Kembali ke konsep pribadi, lakukanlah hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kehidupan serta harkat dan martabat diri kita, keluarga, dan orang-orang sekitar kita.

Sumber : id.wikipedia.org


Naturalisasi


Naturalisasi

Naturalisasi adalah proses perubahan status dari penduduk asing menjadi warga negara suatu negara. Proses ini harus terlebih dahulu memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan dalam peraturan kewarganegaraan negara yang bersangkutan. Hukum naturalisasi di setiap negara berbeda-beda. Di Indonesia, masalah kewarganegaraan saat ini diatur dalam Undang-Undang No. 12 tahun 2006.


Naturalisasi di indonesia

Sebagai warga negara indonesia, penulis sendiri sebenarnya sedikit bangga dengan banyaknya warga negara asing yang ingin menjadi warga negara indonesia dengan naturalisasi. Banyak hal yang menjadi alasan orang-orang tersebut untuk mendapatkan identitas sebagai warga negara indonesia, di mata awam alasan-alasan tersebut seakan-akan memuji indonesia sehingga banyak orang yang benar-benar ingin menjadi warga negara indonesia.

Di sisi lain naturalisasi juga dipandang beberapa orang sebagai cara lain untuk beberapa alasan khusus, contohnya seperti menikah dengan warganegara indonesia. Seorang warga negara asing yang telah menikah dengan warga negara Indonesia tentu harus memiliki identitas yang jelas atas kewarganegaraannya, jika ia memiliki syarat yang lengkap, seharusya ia mengurus naturalisasi secepatnya, agar keluarganya tidak menjadi rumit. Jika orang tersebut tidak melakukan naturalisasi akan berdampak kepada keluarganya, termasuk anaknya yang akan dilahirkan. Anak yang lahir dari warga negara asing dan warga negara Indonesia akan sulit untuk memilih warga negaranya, kecuali orang tuanya yang warga negara asing segera melakukan naturalisasi agar identitas warganegara anaknya jelas.

Naturalisasi yang dilakukan seorang warga negara asing menurut penulis pribadi adalah sebagai bentuk pujian kepada negara indonesia karena ada seorang yang ingin menjadi bagian dari indonesia ini sendiri, tapi entah mengapa, orang-orang tersebut dipersulit dengan banyak syarat dari pemerintahan. Dalam sistem sebenarnya hal ini sah saja, hanya yang menjadi batu sandungan dalam permasalahan ini adalah pengurusan naturalisasi sering kali membutuhkan waktu yang sangat lama, padahal dalam pelaksanaannya bisa dilakukan dengan cepat. Sering kali juga pengurusan naturalisasi melalui jalur yang rumit dan bercabang, padahal proses ini bisa melewati jalur yang sederhana dan lurus.

Harapan penulis sendiri agar pihak yang terkait dalam proses naturalisasi bekerja propesional di divisinya masing-masing agar siapapun yang ingin berpindah warga negara segera dan tidak lagi puing memikirkan sulitnya proses ini. Kita sebagai orang warga negara Indonesia biasa juga harus menerima warga negara asing yang telah bernaturalisasi sebagai penduduk sekaligus warga negara Indonesia.

Sumber : id.wikipedia.org